Kata Pengantar
Puji syukur
kehadirat Allah swt, karena dengan hidayanya sehingga makalah Fisiologi
Tumbuhan dengan judul “Fisiologi Biji” dapat terselesaikan sesuai dengan
rencana. Terimah kasih penyusun ucapkan kepada dosen mata kuliah yang
bersangkutan atas bimbingannya dalam menyelesaikan makalah ini dan kepada
teman-teman yang mendukung dan turut serta dalam membantu demi terselesaikannya
makalah ini, serta terimah kasih kepada senior – senior atas bantuannya dalam
menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini
kami susun sebagai tugas pokok dengan mata kuliah Fisiologi Tumbuhan dan
sebagai persyaratan untuk mengikuti mata kuliah ini. Penyusun mengharapkan agar
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua kalangan, terutama dalam
kalangan mahasiswa khususnya bagi penyusun.
Penyusun
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
penyusun mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun demi
penyelesaian makalah selanjutnya.
Pekanbaru, 06 Oktober
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Salah satu ciri mahluk hidup adalah tumbuh dan
berkembang. Kedua aktifitas kehidupan ini tidak dapat dipisahkan karena
prosesnya berjalan bersamaan. Pertumbuhan diartikan sebagai pertambahan ukuran
atau volume serta jumlah sel secara irreversibel. Irreversibel maksudnya tidak
dapat kembali pada keadaan awal. Sedangkan perkembangan adalah proses menuju
kedewasaan. Pertumbuhan pada tanaman terbagi dalam beberapa tahapan,yaitu
perkecambahan yang diikuti dengan pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder.
Perkecambahan merupakan proses munculnya tanaman kecil dari dalam biji. Untuk
itu perlu diketahui bagaimana proses perkecambahan itu terjadi beserta
kondisi-kondisi pada kecambah yang diberikan oleh
faktor-faktor penyebab perkecambahan. Perkecambahan
biji pada tanaman dibedakan menjadi perkecambahan epigeal dan hipogeal.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
konsep perkecambahan biji?
2. Bagaimana
perkembangan biji dan endosperm?
3. Bagaimana
metabolisme perkecambahan biji?
4. Apa
saja faktor yang mempengaruhi perkecambahan biji?
5. Apa
yang dimaksud dengan dormansi biji?
6. Apa
saja penyebab dormasi dan pematahannya?
C.
Tujuan
1. Mengetahui
konsep perkecambahan biji
2. Mengetahui
perkembangan biji dan endosperm
3. Mengetahui
metabolisme perkecambahan biji
4. Mengetahui
faktor yang mempengaruhi perkecambahan biji
5. Mengetahui
pengertian dormansi biji
6. Mengetahui
penyebab dormasi dan pematahannya
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Perkecambahan Biji
Perkecambahan merupakan salah satu proses pertumbuhan dan perkembangan
embrio (lembaga tumbuhan). Hasil perkecambahan ini adalah munculnya tumbuhan
kecil dari dalam biji. Proses perubahan embrio saat perkecambahan adalah
plumula tumbuh dan berkembang menjadi batang, dan radikula tumbuh dan
berkembang menjadi akar. Proses perkecambahan di pengaruhi oleh
cahaya, suhu, dan oksigen.
Perkecambahan
juga melibatkan proses fisika dan proses kimia:
ü Proses
fisika terjadi yaitu pada awal perkecambahan di mulai dengan berakhirnya masa
dormansi pada biji. Berakhirnya masa tersebut ditandai dengan proses
imbibisi,yaitu masuknya air ke dalam biji yang mengakibatkan biji mengembang
dan kulit biji akan pecah. Secara
fisiologi, proses perkecambahan berlangsung dalam beberapa tahapan penting,
meliputi:
·
Absorbsi air
·
Metabolisme pemecahan materi cadangan makanan
·
Transpor materi hasil pemecahan dari endosperm
ke embrio yang aktif tumbuh.
·
Proses-proses pembentukan kembali materi-materi
baru
·
Respirasi
·
Pertumbuhan
ü Proses
kimia terjadi ketika air masuk pada biji kemuadian air tersebut mengaktifkan
embrio untuk melepaskan hormon Giberelin (GA). Hormon ini mendorong aleuron
(lapisan tipis bagian luar endosperma) untuk mensintesis dan mengeluarkan
enzim. Enzim bekerja dengan
menghidrolisis cadangan makanan yang terdapat
pada kotuledon dan endosperma. Kemudian enzim yang ada pada
biji tersebut misalnya enzim amilase akan mengubah amilun yang terdapat pada
kotiledon menjadi glukosa. Dan glukosa ini diperlukan untuk proses pembentukan energi
bersama oksigen. Selanjutnya, selama pertumbuhan embrio akan menjadi bibit
tanaman.
B.
Perkembangan
Biji Dan Endosperm
Perkecambahan dibedakan menjadi dua
macam yaitu :
ü Perkecambahan Epigeal
Perkecambahan epigeal adalah apabila terjadi pembentangan
ruas batang di bawah daun lembaga atau hipokotil sehingga mengakibatkan daun
lembaga dan kotiledon terangkat ke atas tanah, misalnya pada kacang hijau.
ü Perkecambahan Hipogeal
Perkecambahan hipogeal adalah apabila terjadi pembentangan
ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun lembaha ikut tertarik ke atas
tanah, tetapi kotiledon tetap di dalam tanah. Misalnya, pda kacang kapri.
Rangkaian
peristiwa selama proses perkecambahan berlangsung, yaitu:
ü Imbibisi
ü Aktivasi
Enzim
ü Perombakan
simpanan cadangan
ü Inisiasi
pertumbuhan embrio
ü Pemunculan
radikel
ü Pemantapan
kecambah
Pemacu kimiawi
perkecambahan benih adalah :
ü Giberelin:
Hormon endogen pemacu perkecambahan benih alamiah
ü Sitokinin:
Hormon endogen pemacu perkecambahan benih alamiah.
ü Etilen
(C4H4): Turut mengatur penglepasan auksin pada perkecambahan benih.
ü H2O2:
Menstimulir respirasi yang mempercepat perombakan cadangan makanan.
ü Auksin:
dalam konsentrasi rendah bekerjasama dengan cahaya mempercepat perkecambahan.
ü KNO3:
bekerjasama dengan cahaya dan suhu memacu proses perkecambahan benih.
ü Thiourea
Membantu pembentukan pemacu perkecambahan, seperti giberelin
Endosperma,
dalam botani,
adalah bagian dari biji
tumbuhan berbunga (Anthophyta) yang merupakan hasil dari pembuahan berganda
selain embrio.
Endosperma dapat dikatakan sebagai "saudara kembar" embrio karena
selalu terbentuk bersama, namun berbeda dengan embrio yang diploid,
endosperma memiliki tiga set genom atau triploid.
Endosperma dapat dilihat dengan jelas pada biji-bijian tertentu, seperti padi, jagung, apokat, serta jarak karena dalam
perkembangan biji ia berfungsi vital dalam mendukung perkecambahan.
Fungsinya yang paling utama adalah sebagai penyedia cadangan energi bagi embrio
(lembaga) dalam proses perkecambahan. Karena itu, protein penyusunnya adalah albumin, protein
yang larut dalam air. Karena fungsinya ini, pada endosperma seringkali
terkandung karbohidrat dan lemak. Walaupun
demikian, endosperma tidak selalu ditemukan pada biji-biji yang telah dewasa /
berkembang penuh. Pada suku kacang-kacangan (Fabaceae)
serta sawi-sawian (Brassicaceae), misalnya, endosperma tidak ditemukan
karena menyusut (rudimenter) dalam perkembangan biji dan fungsi penyedia
cadangan energi digantikan oleh bagian embrio sendiri, yaitu daun
lembaga atau kotiledon.
Lapisan terluar endosperma beberapa biji serealia memiliki jaringan
pelindung tipis yang dapat mengandung pigmen dan disebut lapisan
aleuron.
Biji yang neniliki endosperm merupakan organ yang berasal dari pembuahan
ganda. Hasil dari pembuahan ganda tersebut berupa embrio yang berasal dari
perkembangan zigot serta adanya endosperm yang berfungsi sebagai nutrisi yang
diperlukan oleh embrio selama masa pertumbuhan dan perkembangan. Endosperm
berkembang dari sel triploid yang aktif membelah membentuk multinukleat
(supercell) seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 1 yang menggunakan biji
jagung sebagai sampel (Campbell et al., 2009).
Gambar 1. Struktur biji jagung (Campbell et al., 2009).
Endosperm sendiri berasal dari inti kandung lembaga sel (central cell)
yang dibuahi oleh gamet jantan. Endosperm beserta embrio dibungkus oleh
integumen yang secara keseluruhan membentuk struktur biji. Perkembangan
endosperm sangat menentukan proses perkecambahan karena endosperm merupakan
cadangan makanan yang dibutuhkan selama proses perkecambahan (Berger,
2003).
Kandungan endosperm pada umumnya adalah berupa homopolimer D-glukosa yang
terdiri dari amilosa dan amilopektin. Amilosa merupakan polimer linear yang
memiliki cabang glukan dengan ikatan glikosida pada posisi α-1,6. Pada
endosperm jagung terdapat amilopektin yang memiliki ikatan A dan ikatan B1.
Proses pembentukan amilopektin dikatalisis oleh ADP glucose pyrophosphorylase
(AGPase) yang merupakan produk dari gen shrunken2 dan brittle2 (Jeon et al.,
2010).
Dalam perkembangannya, biji akan mengalami proses perkecambahan.
Perkecambahan merupakan proses perubahan embrio menjadi tahapan yang lebih
kompleks yang menyangkut perubahan morfologi, fisiologi, dan kimiawi (Starr
& Taggart, 2009). Proses perkecambahan diawali dengan proses imbibisi yang
kemudian dimulai dengan munculnya bagian radikula. Proses tersebut melibatkan
mekanisme yang kompleks baik dari internal maupun eksternal. Dalam proses
perkecambahan terdapat tiga fase yakni fase I, II, dan III (Gambar 2). Fase I
merupakan tahapan awal yakni ditandai dengan proses imbibisi pada biji,
kemudian fase II masih terjadi proses penterapan air dan sejumlah aktivitas
selular, enzimatis, dan reaksi-reaksi kimiawi terjadi peningkatan mulai dari
persiapan perkecambahan hingga proses pertumbuhan dan perkembangan pada
kecambah yang ditandai dengan munculnya radikula. Pada fase terakhir yakni fase
III merupakan pasca perkecambahan (post-germination) merupakan fase dimulainya
kehidupan tanaman baru (Nonogaki et al., 2010).
Gambar 2. Fase-fase perkecambahan (Nonogaki et al., 2010).
C.
Metabolisme
Perkembangan Biji
Menurut (Sadjad,1994) tahap awal metabolisme untuk tumbuh benih dapat
diungkapkan sebagai tiga tipe yaitu perombakan bahan cadagan, translokasi dari
bagian benih kesatu bagian yang lain dan sintesa bahan-bahan yang baru.

(Sutopo (2002) menjelaskan tahapan proses perkecambahan sebagai berikut:
1. Tahap
pertama dimulai dengan penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan
hidrasi oleh protoplasma.
2. Tahap
kedua dimulai dengan kegitan sel-sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat
respirasi benih.
3. Tahap
ketiga merupakan tahap dimana terjadi penguraian bahan-bahan seperti
karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk-bentuk yang melarut dan
ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh.
4. Tahap keempat adalah asimilasi dari
bahan-bahan yang telah terurai di daerah meristematik untuk menghasilkan energi
dari kegiatan pembentukan komponen dalam pertumbuhan sel-sel baru.
5. Tahap
kelima adalah pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran
dan pembagian sel-sel pada titik-titik tumbuh, pertumbuhan kecambah ini tergantung
pada persediaan makanan yang ada dalam biji.
Proses penyerapan air oleh biji merupakan proses imbibisi yang disebabkan
oleh perbedaan potensi air antara benih dengan media sekitarnya (Lakitan,
1996), sehingga kadar air dalam benih mencapai presentase tertentu yaitu (50 sd
60) persen dan akan meningkat lagi pada saat munculnya radikel sampai jaringan
penyimpan dan kecambah yang sedang tumbuh mempunyai kandungan air (70 sd 90)
persen (Ching, 1972 dalam Sutopo, 2002). Akibat terjadinya imbibisi, kulit biji
akan menjadi lunak dan retak-retak (Kuswanto,1996).
Proses perkecambahan dapat terjadi jika kulit benih permeable terhadap
air dengan tekanan osmosis tertentu (Kuswanto, 1996). Serapan air dan berbagai
proses biokimia yang berlangsung pada benih pada akhirnya akan tercermin pada
pertumbuhan dan perkembangan kecambah menjadi tanaman muda (bibit), kecuali
jika benih tersebut dalam keadaan dorman (Lakitan,1996).
D.
Faktor Yang
Mempengaruhi Perkecambahan Biji
1.
Faktor
internal (dalam)
a.
Tingkat
kemasakan benih
Benih yang dipanen sebelum
tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi
karena belum memiliki cadangan makanan yang cukup serta pembentukan embrio
belum sempurna (Sutopo, 2002). Pada umumnya sewaktu kadar air biji menurun
dengan cepat sekitar 20 persen, maka benih tersebut juga telah mencapai masak
fisiologis atau masak fungsional dan pada saat itu benih mencapat berat kering
maksimum, daya tumbuh maksimum (vigor) dan daya kecambah maksimum (viabilitas)
atau dengan kata lain benih mempunyai mutu tertinggi (Kamil, 1979).
b.
Ukuran benih
Benih yang berukuran besar dan
berat mengandung cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan dengan yang
kecil pada jenis yang sama. Cadangan makanan yang terkandung dalam jaringan
penyimpan digunakan sebagai sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan
(Sutopo, 2002). Berat benih berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dan
produksi karena berat benih menentukan besarnya kecambah pada saat permulaan
dan berat tanaman pada saat dipanen (Blackman, dalam Sutopo, 2002).
c.
Dormansi
Benih dikatakan dormansi apabila
benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan
pada keadaan yang secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu
perkecambahan atau juga dapat dikatakan dormansi benih menunjukkan suatu
keadaan dimana benih-benih sehat (viabel) namun gagal berkecambah ketika berada
dalam kondisi yang secara normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban
yang cukup, suhu dan cahaya yang sesuai (Lambers 1992, Schmidt 2002).
d.
Penghambat
perkecambahan
Menurut Kuswanto (1996),
penghambat perkecambahan benih dapat berupa kehadiran inhibitor baik dalam
benih maupun di permukaan benih, adanya larutan dengan nilai osmotik yang
tinggi serta bahan yang menghambat lintasan metabolik atau menghambat laju
respirasi.
2.
Faktor eksternal (luar)
a. Air
Penyerapan air oleh benih dipengaruhi oleh sifat benih itu sendiri terutama kulit pelindungnya dan jumlah air yang tersedia pada media di sekitarnya, sedangkan jumlah air yang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis benihnya, dan tingkat pengambilan air turut dipengaruhi oleh suhu (Sutopo, 2002). Perkembangan benih tidak akan dimulai bila air belum terserap masuk ke dalam benih hingga 80 sampai 90 persen (Darjadi,1972) dan umumnya dibutuhkan kadar air benih sekitar 30 sampai 55 persen (Kamil, 1979). Benih mempunyai kemampuan kecambah pada kisaran air tersedia. Pada kondisi media yang terlalu basah akan dapat menghambat aerasi dan merangsang timbulnya penyakit serta busuknya benih karena cendawan atau bakteri (Sutopo, 2002).
Penyerapan air oleh benih dipengaruhi oleh sifat benih itu sendiri terutama kulit pelindungnya dan jumlah air yang tersedia pada media di sekitarnya, sedangkan jumlah air yang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis benihnya, dan tingkat pengambilan air turut dipengaruhi oleh suhu (Sutopo, 2002). Perkembangan benih tidak akan dimulai bila air belum terserap masuk ke dalam benih hingga 80 sampai 90 persen (Darjadi,1972) dan umumnya dibutuhkan kadar air benih sekitar 30 sampai 55 persen (Kamil, 1979). Benih mempunyai kemampuan kecambah pada kisaran air tersedia. Pada kondisi media yang terlalu basah akan dapat menghambat aerasi dan merangsang timbulnya penyakit serta busuknya benih karena cendawan atau bakteri (Sutopo, 2002).
Menurut Kamil (1979), kira-kira
70 persen berat protoplasma sel hidup terdiri dari air dan fungsi air antara
lain:
ü Untuk melembabkan kulit biji sehingga menjadi
pecah atau robek agar terjadi pengembangan embrio dan endosperm.
ü Untuk memberikan fasilitas masuknya oksigen
kedalam biji.
ü Untuk mengencerkan protoplasma sehingga dapat
mengaktifkan berbagai fungsinya.
ü Sebagai alat transport larutan makanan dari
endosperm atau kotiledon ke titik tumbuh, dimana akan terbentuk protoplasma
baru.
b. Suhu
Suhu optimal adalah yang paling
menguntungkan berlangsungnya perkecambahan benih dimana presentase perkembangan
tertinggi dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu antara 26.5 sd 35°C (Sutopo,
2002). Suhu juga mempengaruhi kecepatan proses permulaan perkecambahan dan
ditentukan oleh berbagai sifat lain yaitu sifat dormansi benih, cahaya dan zat
tumbuh gibberallin.
c. Oksigen
Saat berlangsungnya
perkecambahan, proses respirasi akan meningkat disertai dengan meningkatnya
pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air dan energi panas. Terbatasnya
oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses perkecambahan benih (Sutopo,
2002). Kebutuhan oksigen sebanding dengan laju respirasi dan dipengaruhi oleh
suhu, mikro-organisme yang terdapat dalam benih (Kuswanto. 1996). Menurut Kamil
(1979) umumnya benih akan berkecambah dalam udara yang mengandung 29 persen
oksigen dan 0.03 persen CO2. Namun untuk benih yang dorman, perkecambahannya
akan terjadi jika oksigen yang masuk ke dalam benih ditingkatkan sampai 80
persen, karena biasanya oksigen yang masuk ke embrio kurang dari 3 persen.
d. Cahaya
Kebutuhan benih akan cahaya untuk
perkecambahannya berfariasi tergantung pada jenis tanaman (Sutopo, 2002).
Adapun besar pengaruh cahanya terhadap perkecambahan tergantung pada intensitas
cahaya, kualitas cahaya, lamanya penyinaran (Kamil, 1979). Menurut Adriance and
Brison dalam Sutopo (2002) pengaruh cahaya terhadap perkecambahan benih dapat
dibagi atas 4 golongan yaitu golongan yang memerlukan cahaya mutlak, golongan
yang memerlukan cahaya untuk mempercepat perkecambahan, golongan dimana cahaya
dapat menghambat perkecambahan, serta golongan dimana benih dapat berkecambah
baik pada tempat gelap maupun ada cahaya.
e.
Medium
Medium yang baik untuk
perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai
kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama
cendawan (Sutopo, 2002). Pengujian viabilitas benih dapat digunakan media
antara lain substrat kertas, pasir dan tanah.
E.
Dormansi
Biji
Dormansi didefinisikan sebagai status dimana benih tidak berkecambah
walaupun pada kondisi lingkungan yang ideal untuk perkecambahan. Beberapa
mekanisme dormansi terjadi pada benih baik fisik maupun fisiologi, termasuk
dormansi primer dan sekunder. Sebenarnya hidup tetapi belum mau berkecambah.
Lamanya dormansi tergantung pada jenis tanaman dan juga tipe dormansinya.
Fungsi dormansi bagi tanaman untuk siklus pertumbuhan tanaman dengan keadaan
lingkungan.
Intensitas dormansi dipengaruhi oleh lingkungan selama perkembangan
benih. Lamanya (persistensi) dormansi dan mekanisme dormansi berbeda antar
spesies, dan antar varietas. Dormansi pada spesies tertentu mengakibatkan benih
tidak berkecambah di dalam tanah selama beberapa tahun. Hal ini menjelaskan
keberadaan tanaman yang tidak diinginkan (gulma) di lahan pertanian yang
ditanami secara rutin.
Perkecambahan pada biji setelah mengalami dormansi
F.
Penyebab
Dormansi dan pematahannya
Penyebab terjadinya dormansi dipengaruhi oleh 2 faktor diantaranya :fisik
(dormansi fisik), misal dari kulit bijinya dan fisiologis (dormnasi
fisiologis), misal dari embrio.
1. Dormansi Fisik (dormansi primer)
Pada tipe dormansi ini yang menyebabkan pembatas struktural
terhadap perkecambahan adalah kulit biji yang keras dan kedap air sehingga
menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas pada berbagai jenis
tanaman. Dormansi primer
merupakan bentuk dormansi yang paling umum dan terdiri atas dua macam yaitu
dormansi eksogen dan dormansi endogen.
Dormansi
eksogen adalah kondisi dimana persyaratan penting untuk perkecambahan (air,
cahaya, suhu) tidak tersedia bagi benih sehingga gagal berkecambah. Tipe
dormansi ini biasanya berkaitan dengan sifat fisik kulit benih (seed coat).
Tetapi kondisi cahaya ideal dan stimulus lingkungan lainnya untuk perkecambahan
mungkin tidak tersedia. Faktor-faktor penyebab dormansi eksogen adalah air,
gas, dan hambatan mekanis.
Dormansi
endogen dapat dipatahkan dengan perubahan fisiologis seperti pemasakan embrio
rudimenter, respon terhadap zat pengatur tumbuh, perubahan suhu, ekspos ke
cahaya.
Yang termasuk dormansi fisik adalah:
ü Impermeabilitas
kulit biji terhadap air
Benih-benih yang menunjukkan tipe dormansi ini disebut benih keras contohnya
seperti pada famili Leguminoceae, disini pengambilan air terhalang kulit
biji yang mempunyai struktur terdiri dari lapisan sel-sel berupa palisade yang
berdinding tebal, terutama dipermukaan paling luar
dan bagian dalamnya mempunyai lapisan lilin. Di alam selain pergantian suhu
tinggi dan rendah dapat menyebabkan benih retak akibat pengembangan dan
pengkerutan, juga kegiatan dari bakteri dan cendawan dapat membantu
memperpendek masa dormansi benih.
ü Resistensi
mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio
Pada tipe dormansi ini, beberapa jenis benih tetap berada dalam keadaan
dorman disebabkan kulit biji yang cukup kuat untuk menghalangi pertumbuhan
embrio. Jika kulit ini dihilangkan maka embrio akan tumbuh dengan segera. Tipe
dormansi ini juga umumnya dijumpai pada beberapa genera tropis seperti Pterocarpus,
Terminalia, Eucalyptus, dll ( Doran, 1997). Pada tipe dormansi ini
juga didapati tipe kulit biji yang biasa dilalui oleh air dan oksigen, tetapi
perkembangan embrio terhalang oleh kekuatan mekanis dari kulit biji tersebut.
Hambatan mekanis terhadap pertumbuhan embrio dapat diatasi dengan dua cara
mengekstrasi benih dari pericarp atau kulit biji.
ü Adanya
zat penghambat
Sejumlah jenis mengandung zat-zat penghambat dalam buah atau benih yang mencegah perkecambahan. Zat penghambat yang paling sering dijumpai ditemukan dalam daging
buah. Untuk itu benih tersebut harus diekstrasi
dan dicuci untuk menghilangkan zat-zat penghambat.
Teknik
skarifikasi pada berbagai jenis benih harus disesuaikan dengan tingkat dormansi
fisik.
Berbagai teknik untuk mematahkan dormansi fisik antara lain sebagai
berikut:
a. Mekanisme perlakuan (skarifikasi)
Perlakuan mekanis (skarifikasi) pada kulit biji, dilakukan
dengan cara penusukan, pengoresan, pemecahan, pengikiran atau pembakaran,
dengan bantuan pisau, jarum, kikir, kertas gosok, atau lainnya adalah cara yang
paling efektif untuk mengatasi dormansi fisik. Karena setiap benih ditangani
secara manual, dapat diberikan perlakuan individu sesuai dengan ketebalan biji.
Pada hakekatnya semua benih dibuat permeabel dengan resiko kerusakan yang
kecil, asal daerah radikel tidak rusak (Schmidt, 2002).
Seluruh permukaan kulit biji dapat dijadikan titik penyerapan
air. Pada benih legum, lapisan sel palisade dari kulit biji menyerap air dan
proses pelunakan menyebar dari titik ini keseluruh permukan kulit biji dalam
beberapa jam. Pada saat yang sama embrio menyerap air. Skarifikasi manual
efektif pada seluruh permukaan kulit biji, tetapi daerah microphylar dimana terdapat
radicle, harus dihindari. Kerusakan pada daerah ini dapat merusak benih,
sedangkan kerusakan pada kotiledon tidak akan mempengaruhi perkecambahan.
b. Air panas
Air panas mematahkan dormansi fisik pada leguminosae melalui
tegangan yang menyebabkan pecahnya lapisan macrosclereids. Metode ini
paling efektif bila benih direndam dengan air panas. Pencelupan sesaat juga
lebih baik untuk mencegah kerusakan pada embrio karena bila perendaman paling
lama, panas yang diteruskan kedalam embrio sehingga dapat menyebabkan
kerusakan. Suhu tinggi dapat merusak benih dengan kulit tipis, jadi kepekaan
terhadap suhu berfariasi tiap jenis.Umumnya benih kering yang masak atau kulit
bijinya relatif tebal toleran terhadap perendaman sesaat dalam air mendidih.
c. Perlakuan kimia
Perlakuan kimia dengan bahan-bahan kimia sering dilakukan
untuk memecahkan dormansi pada benih. Tujuan utamanya adalah menjadikan agar
kulit biji lebih mudah dimasuki oleh air pada waktu proses imbibisi. Larutan
asam kuat seperti asam sulfat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji
menjadi lunak sehingga dapat dilalui air dengan mudah.
Larutan asam untuk perlakuan ini adalah asam sulfat pekat
(H2SO4) asam ini menyebabkan kerusakan pada kulit biji dan dapat diterapkan
pada legum maupun non legume (Coppeland, 1980). Tetapi metode ini tidak sesuai
untuk benih yang mudah sekali menjadi permeable, karena asam akan merusak
embrio. Lamanya perlakuan larutan asam harus memperhatikan 2 hal, yaitu:
1). kulit
biji atau pericarp yang dapat diretakkan untuk memungkinkan imbibisi
2). larutan
asam tidak mengenai embrio.
d.
Perlakuan temperature
·
Rendah (stratifikasi).
Pemberian suhu rendah selama waktu tertentu (berbeda untuk
setiap jenis tanaman) dapat menghilangkan penghambatan pertumbuhan.
·
Rendah dan tinggi.
Temperatur tinggi hanya radikelnya, diikuti temperature
rendah untuk epikotilnya. Perbedaan tidak boleh lebih dari 10-20oC.
e. Perlakuan
cahaya
Jumlah cahaya, intensitas, panjang hari juga dapat memepengaruhi laju
perkecambahan. Selain meningkatkan % perkecambahan, juga dapat meningkatkan
laju perkecambahan.
2. Dormansi Fisiologis (dormansi sekunder)
Penyebabnya adalah embrio yang belum sempurna pertumbuhannya
atau belum matang. Benih-benih
demikian memerlukan jangka waktu tertentu agar dapat berkecambah (penyimpanan).
Jangka waktu penyimpanan ini berbeda-beda dari kurun waktu beberapa hari sampai
beberapa tahun tergantung jenis benih. Benih-benih ini biasanya ditempatkan
pada kondisi temperatur dan kelembaban tertentu agar viabilitasnya tetap
terjaga sampai embrio terbentuk sempurna dan dapat berkecambah (Schmidt, 2002).
Benih non dorman dapat mengalami kondisi yang menyebabkannya
menjadi dorman. Penyebabnya kemungkinan benih terekspos kondisi yang ideal
untuk terjadinya perkecambahan kecuali satu yang tidak terpenuhi. Dormansi
sekunder dapat diinduksi oleh: (1) thermo- (suhu), dikenal sebagai thermodormancy;
(2) photo- (cahaya), dikenal sebagai photodormancy; (3) skoto-
(kegelapan), dikenal sebagai skotodormancy; meskipun penyebab lain
seperti kelebihan air, bahan kimia, dan gas bisa juga terlibat.
Mekanisme dormansi sekunder diduga karena:
ü terkena
hambatan pada titik-titik krusial dalam sekuens metabolik menuju perkecambahan;
ü ketidak-seimbangan
zat pemacu pertumbuhan versus zat penghambat pertumbuhan. Dormansi karena
hambatan metabolisme pada embrio, terjadi karena adanya zat-zat penghambat
perkecambahan dalam embrio. Misal : ammonia, asam benzoate, ethylene, alkaloid, coumarin (yang menghambat kerja enzim
alfa dan beta amylase).
Contoh :
selada,dapat berkecambah langsung bila diberi suhu <20oC. Tetapi setelah
disimpan, dapat berkecambah walau suhunya 30oC.
Dormansi
Benih dan Metode Pematahannya:
1) Dormansi Benih Padi dan Metode Pematahan
Dormansi
Sebagian besar benih padi mempunyai sifat dorman. Dormansi benih pada
padi menyebabkan beberapa varietas padi yang baru dipanen tidak tumbuh jika
ditanam pada kondisi optimum. Masa dorman benih padi beragam 0 – 11 minggu.
Perilaku dormansi (intensitas, persistensi, dan mekanisme dormansi) beragam
antar genotipe padi (Takahashi 1984 dalam Soejadi dan Nugraha, 2002a).
Untuk mengatasi masalah ini diperlukan metode pematahan dormansi yang
efektif yang dapat meningkatkan validitas hasil pengujian daya berkecambah, dan
mengatasi masalah dormansi pada saat benih diperlukan untuk segera ditanam.
Pematahan dormansi dikatakan efektif jika menghasilkan daya berkecambah 85%
atau lebih (Ilyas dan Diarni, 2007). Soejadi dan Nugraha (2002a) menyatakan,
efektivitas metode pematahan dormansi sangat dipengaruhi oleh intensitas,
persistensi, dan mekanisme dormansi. Perbedaan persistensi dormansi benih
bergantung pada beberapa faktor antara lain spesies, varietas, musim tanam,
lokasi panen, dan tahap perkembangan benih (Come et al., 1988). Nugraha
dan Soejadi (1991) melaporkan bahwa persistensi dormansi benih dapat
mempengaruhi metode pematahan dormansi yang digunakan.
Perendaman benih dalam KNO3 1% selama 48 jam adalah cara pematahan
dormansi paling efektif pada benih padi gogo varietas Kalimutu, Gajah Mungkur,
dan Way Rarem pada saat 0 minggu setelah panen. (Ilyas dan Diarni, 2007). Perlakuan
ini juga paling efektif untuk mematahkan dormansi benih padi gogo ’Gajah
Mungkur’ setelah disimpan 2 dan 4 minggu dengan indeks vigor tertinggi (Tabel
3). Penggunaan KNO3 0,2% efektif untuk mematahkan dormansi benih padi sawah
(Nugraha dan Soejadi, 1991). Selain itu, perlakuan perendaman benih dalam
larutan GA3120 ppm selama 48 jam juga efektif. Metode pemanasan benih dalam
oven 50 0C selama 48 jam yang diikuti dengan perendaman dalam air 24 jam dapat
digunakan untuk mematahkan dormansi benih padi gogo ’Jatiluhur’ (Ilyas dan
Diarni, 2007). Rekomendasi ISTA (2005) untuk mematahkan dormansi benih Oryza
sativa adalah dengan memanaskan benih pada suhu 50 0C, atau merendam
benih dalam air atau HNO3 selama 24 jam sebelum dikecambahkan. Tetapi Soejadi dan Nugraha (2002b)
Pada benih kacang tanah tipe Virginia, perkecambahan benih dihalangi oleh
embrio yang belum masak sehingga mengakibatkan terjadinya dormansi. Pematahan
dormansi dapat dilakukan dengan menghembuskan udara yang mengandung uap etilen
selama 24 jam (Pollock dan Toole, 1961). Matilla (2000) juga menyatakan,
perlakuan etilen pada benih kacang tanah dapat menghilangkan penghambatan
perkecambahan oleh inhibitor ABA.
2) Dormansi Benih Kacang Tanah dan Metode
pematahannya.
Perlakuan penyimpanan benih setelah panen (after-ripening) pada
kisaran suhu ruang 19 - 25 0C belum dapat mematahkan dormansi benih kacang
tanah varietas Gajah, Kidang, Pelanduk, Zebra, Macan, dan Panter terbukti
dengan nilai daya berkecambah yang masih rendah. Untuk varietas Simpai dan Trenggiling,
after-ripening selama 3 minggu mampu mematahkan dormansi benih, dan
untuk varietas Banteng dengan after-ripening 4 minggu. Daya berkecambah
benih telah mencapai 88%.
Tetapi pada penelitian Cahyono dan Ilyas (2001), pematahan dormansi
secara kimia termasuk perlakuan inkubasi benih selama 48 jam dalam uap etilen
(1,2 ethanediamine) 2001) segera setelah panen tidak efektif untuk mematahkan
dormansi benih kacang tanah dari sembilan varietas yang digunakan (tidak semua
data ditunjukkan). Pelembaban benih selama 48 jam dalam KNO3 0.2% mampu
meningkatkan daya berkecambah benih kacang tanah varietas Gajah dari 60% saat after-ripening
3 minggu menjadi 80% setelah 6 minggu; dan mematahkan dormansi benih
varietas Panter 6 minggu after-ripening (daya berkecambah 80%). Kedua
perlakuan secara kimia belum efektif untuk mematahkan dormansi benih varietas
Zebra 6 minggu after-ripening karena daya berkecambah yang dicapai hanya
64%. Rekomendasi ISTA (2005) untuk mematahkan dormansi benih Arachis
hypogaea mungkin dapat diterapkan yaitu dengan menginkubasi benih tanpa
polong pada suhu 40 0C.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perkecambahan merupakan salah satu
proses pertumbuhan dan perkembangan embrio (lembaga
tumbuhan). Hasil perkecambahan ini adalah
munculnya tumbuhan kecil dari dalam biji.
Dormansi ada 2:
1) Dormansi Fisik
Beberapa penyebab dormansi fisik adalah :
ü
Impermeabilitas kulit biji terhadap air
ü
Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan
embrio
ü
Permeabilitas yang rendah dari kulit biji terhadap
gas-gas
2)
Dormansi Fisiologis
Beberapa penyebab dormansi fisiologis
adalah :
ü
Immaturity Embrio
ü
After ripening
ü
Dormansi yang disebabkan oleh hambatan metabolis pada
embrio.
Tipe perkecambahan terbagi menjadi perkecambahan epigealdan hipogeal.
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan terdiri dari faktor dalam dan faktor
luar.
Ada beberapa cara yang telah diketahui menghambat dormansi, seperti:
ü
Dengan perlakuan mekanis
ü
Dengan perlakuan kimia
ü
Perendaman benih padi dalam HNO3 pekat
selama 30 menit.
ü
Pemberian Gibberelin pada benih terong dengan dosis
100 - 200 PPM.
ü
Dengan perlakuan perendaman dengan air.
ü
Dengan perlakuan suhu
ü
Dengan perlakuan cahaya
DAFTAR
PUSTAKA
Campbell, N.A. 2003. Biologi jilid V edisi 2 (penerjemah: Wasmen Manulau). Jakarta: Erlangga.
Pratiwi.2007. Biologi Untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga
Gardner, F.P. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya (Penerjemah: Herawati Susilo). Jakarta: UI-Press.
Pratiwi.2007. Biologi Untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga
Gardner, F.P. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya (Penerjemah: Herawati Susilo). Jakarta: UI-Press.
Wilkins,M.B.1989.fisiologi
tanaman. Bumi aksara: jakarta
http://www.google.co.id/perkecambahan/05 oktober 2015 pukul 20:35
http://www.google.co.id/perkecambahan/05 oktober 2015 pukul 20:35




Tidak ada komentar:
Posting Komentar